Tahap- Tahap Pendidikan Dokter Spesialis(Penyakit Dalam) di Filipina

 

Kini saya menceritakan seperti apa pendidikan dokter spesialis di Filipina berdasarkan pengalaman pribadi saya.  Setelah diterima di salah satu RS, saya tidak langsung memulai pendidikan sebagai dokter spesialis penyakit dalam/internist. Melainkan saya harus menjalani tahap pra-residensi atau pre-residency.

Tahap pra-residensi adalah kesempatan untuk mengukur kemampuan dan minat calon dokter spesialis. Biasanya berlangsung selama dua minggu hingga sebulan tergantung dari FK yang dituju.  Training Board, para konsulen dan bahkan rekan-rekan residen akan mengadakan penilaian terhadap sang calon. Mereka mengukur kemampuan tersebut melalui ujian tertulis, presentasi kasus dan kelakuan. Presentasi kasus yang diharuskan biasanya cukup pada level dokter umum, yaitu mulai dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan penanganan awal. Diskusi kasus juga tidak sulit, cukup berdasarkan buku cetak Harrison. Jurnal maupun guidelines belum diharuskan di sini. Jika Anda tahu sedikit, tentu tidak salah untuk membuat kesan bagus pada para konsulen. Pra-residensi juga merupakan pengenalan pada lingkungan RS dan sesama rekan residen, jadi gunakanlah kesempatan ini untuk memperbanyak pengetahuan dan menambah teman-teman. Walaupun demikian, ada kalanya sang calon tidak menyelesaikan pra-residensi dengan alasan tertentu. Meskipun demikian, hendaklah kita mundur dengan baik-baik. Setelah masa pra-residensi selesai, Training Board  akan memutuskan apakah Anda diterima atau tidak. Anda akan mengetahuinya jika mereka menghubungi Anda. Yang terpenting di sini bukanlah kepandaian ataupun faktor ‘X’, tetapi apakah Anda mempunyai minat untuk belajar dan bersedia diajar?

Berikutnya, residensi tahun pertama atau First Year Residency. Ini merupakan tahun yang paling sulit bagi para dokter spesialis. Saya kira rekan-rekan sejawat yang mengambil PPDS di Indonesia memahaminya. Dokter residen tahun pertama akan memegang pasien di bangsal, mungkin tidak hanya satu bangsal. Kita bekerja dan belajar dibawah pengawasan residen tahun kedua dan senior. Di sinilah tingkatan atau hierarki berlaku. Para senior bertanggung jawab atas kita dan kita bertanggung jawab pada mereka.  Anda harus mengenal setiap pasien di bangsal Anda di luar kepala. Tidak hanya mengenal, Anda harus mengawasi setiap pasien jelek, bahkan merujuk mereka pada konsulen subspesialis. Dengan kata lain, Andalah penanggung jawab seluruh bangsal.  Itupun belum cukup, Andapun harus mempersiapkan presentasi kasus sebanyak 3-4 kasus/ tahun, atau proposal untuk research paper. Bisa dibayangkan betapa ribetnya hidup Anda pada tahun pertama.

Saya mendengar banyak yang bercerita bahwa senior tidak mau dihubungi atau meninggalkan yuniornya sendirian di RS lain. Tetapi di Filipina, konsulen, residen senior dan Anda bertanggung jawab atas nyawa pasien. Ingatlah, Anda tidak mempunyai izin praktek di  Filipina, jadi apapun yang Anda putuskan dapat mendatangkan konsekuensi legal pada konsulen dan rekan-rekan Anda. Selain itu, tidak semua konsulen mempercayakan pasien mereka pada dokter asing yang tidak dikenal. Pada masa ini, banyak calon dokter spesialis yang putus arang dan mengundurkan diri.

Janganlah putus asa, ini adalah bagian dalam menuntut ilmu. Saran saya bagi mereka yang menjalani tahun pertama adalah tetap rajin belajar dan jadikanlah pengalaman pahit Anda sebagai dasar untuk tahun berikutnya. Bila Anda menemui kesulitan, jangan segan-segan mencari bantuan dari residen tahun kedua dan senior. Jangan selesaikan masalah itu sendiri atau melapor langsung pada para konsulen; Anda hanya melakukan hal itu jika senior tidak bisa dihubungi. Untuk presentasi kasus atau research paper, Anda bisa bertanya pada senior atau konsulen untuk topik yang bisa diambil.

Jika Anda punya usul, informasikanlah kepada senior Anda dan minta pendapatnya. Lebih penting lagi untuk menjaga hubungan antar sesama rekan sejawat. Anda harus saling menjaga dan mengingatkan bila berbuat kesalahan. Kita datang ke negeri orang bukan untuk mencari ribut, tetapi untuk menuntut ilmu!

Jawablah pertanyaan konsulen jika Anda ada ronde bangsal. Seperti saya katakan sebelumnya, Anda dihargai melalui apa yang Anda pelajari, bukan hal-hal lain. Manajemen waktu sangat penting pada masa ini; Anda harus belajar memprioritaskan atau Anda akan kewalahan.

Kemudian residensi tahun kedua atau Second Year Residency. Beban kita pada masa ini lebih ringan karena kita berfokus pada subspesialisasi seperti Kardiologi(plus Hipertensi dan Intervensi), Endokrinologi-Metabolisme, Nefrologi(minus Hipertensi),Gastroenterologi(plus Hepatologi), Onkologi, Hematologi, Pulmonologi, Psikiatri dan Toksikologi. Namun tiap RS mungkin memiliki subspesialisasi yang berbeda. Saya katakan masa ini lebih ringan, karena kita cukup fokus pada pasien-pasien yang ditangani konsulen subspesialis tersebut. Di sini kita belajar bagaimana caranya merujuk pada subspesialis. Anda harus aktif dengan memeriksa pasien yang dirujuk terlebih dahulu, kemudian melaporkan itu pada konsulen Anda. Sekali lagi, jika Anda punya usul atau pertanyaan janganlah segan-segan bertanya kepada rekan residen, senior dan para konsulen. Tentunya setelah Anda belajar tentang kasus yang Anda tangani. Presentasi kasus dan proposal research paper juga masih terus berlangsung. Jangan kira Anda aman pada masa ini, karena Anda masih bisa tersingkir.

Masa berikutnya, yaitu tahun ketiga atau Third Year Residency. Masa ini susah-susah gampang menurut saya. Mengapa? Karena pada masa ini, kita memegang pasien kamar intensif atau ICU. Anda juga dipaksa berkomunikasi langsung dengan para konsulen. Setiap menit di dalam ICU bisa berarti banyak bagi pasien dan Anda. Selain itu komunikasi dengan keluarga pasien menjadi intensif. Bila Anda masih memiliki senior yang mau lulus atau sedang menjalani make-up, maka mereka bisa membantu Anda. Jika tidak, maka  Anda-lah senior itu!

Anda juga akan mempresentasikan salah satu kasus ICU dan menyelesaikan research paper.  Walaupun demikian,  research paper  akan menyusul setelah wisuda Anda.  Masa perbaikan atau make-up dapat dipergunakan.

Masa ini adalah masa penentuan. Jika segalanya berjalan lancar, nilai akademik bagus dan perilaku Anda baik, maka Anda akan wisuda sebagai Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan mulai kehidupan sebagai seorang konsulen muda. Lebih bagus lagi jika FK tempat kita belajar tidak memberikan status “Observer” pada Anda. Lihatlah kembali dari masa pra-residensi hingga tahun ketiga! Apakah Anda aktif dalam memberikan saran kepada rekan residen, senior atau konsulen demi kebaikan pasien? Apakah Anda bertindak ekstra untuk kesembuhan pasien? Apakah Anda belajar keras agar nilai akademik Anda bagus? Konsulen dan rekan-rekan Andalah yang menilai Anda!

Saya tidak tahu dengan departemen lain, tetapi secara umum, tahap-tahap ini serupa! Apakah Anda tetap meneruskan niat Anda untuk menuntut pendidikan dokter spesialis setelah membaca artikel saya ini? Pilihan ada di tangan Anda! Semoga Anda sukses!

  1. #1 by melukiskasih on September 15, 2015 - 12:21 pm

    dok, mau tanya ni. dokter ambil program spesialisnya di RS apa dan apa aja yg dibutuhkan untuk mendaftar? thx🙂

    • #2 by adapz on October 18, 2015 - 11:13 am

      @Melukiskasih
      Maaf, baru balas sekarang. Saya mengambil program spesialis Interna di Adventist Medical Center Manila
      Persiapan untuk mendaftar dapat ditemukan di artikel sebelumnya.

      Semoga sukses!

  2. #3 by jkidutamedika on April 22, 2016 - 3:43 pm

    Terima kasih atas tulisannya yang memotivasi.

  3. #4 by victor on September 22, 2016 - 2:59 am

    terimakasih atas tulisan yang menginspirasi doc!
    mau tanya kalau lulus FK dari filipin harus adaptasi dulu ya sebelum ambil spesialis? apa ada rumah sakit difilipina yang menerima tanpa ada SIP/STR?

    • #5 by adapz on September 22, 2016 - 8:28 am

      Sama-sama, rekan sejawat!

      Seperti yang telah saya bahas di blog ini,bila ingin kembali ke Indonesia setelah lulus FK dari Filipina,
      maka adaptasi diwajibkan. Tetapi tidak ada larangan untuk melanjutkan Post-Graduate Intern/Senior Intern setelah
      lulus FK di Filipina dan meneruskan ke spesialisasi.

      Yang saya tahu, adaptasi dokter umum dan dokter spesialis berbeda. Namun beberapa lulusan di sini, termasuk para
      junior saya telah kembali ke Indonesia dan menyelesaikan adaptasi spesialis di sana.Saya akan carikan info lebih lanjut untuk itu

      Mengenai STR/SIP kita, RS negeri maupun swasta tak mewajibkan untuk melampirkan STR/SIP dari Indonesia karena mereka
      punya izin praktek lokal. Walaupun demikan, lebih baik Anda membawanya untuk jaga-jaga bila ditanyakan.

      Semoga ini dapat membantu Anda

  4. #6 by alexander on November 6, 2016 - 5:53 pm

    hi doc, aq senang bs ketemu blog anda.sy benar2 buta utk rencana sekolah di filipina, wkt itu sy sempat kontak junior sy yg sdh lulus dari sana, tetapi respon berbeda. apakah anda bs bantu sy doc, berharap bgt bs bantu sy

    • #7 by adapz on November 7, 2016 - 11:27 am

      Halo, rekan sejawat!

      Saya akan bantu sebisanya melalui info-info, namun kepastian untuk diterima tergantung pada tempat Anda melamar
      residensi spesialis di sana. Anda boleh bertanya apa saja pada saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: