Kelebihan Pendidikan Dokter Spesialis Di Filipina

Setelah sekian lama, saya akhirnya kembali menulis artikel baru di blog ini. Saya mohon maaf jika banyak message yang belum saya reply. Melihat besarnya minat rekan-rekan sejawat untuk melanjutkan pendidikan dokter spesialis, saya memutuskan untuk membagikan pengalaman pribadi saya semasa menjalani pendidikan dokter spesialis penyakit dalam di Filipina, lengkap dengan suka-dukanya.

Sebelumnya ada hal-hal yang perlu diketahui mengenai Filipina, Negara tetangga kita. Pertama-tama, sistim pendidikan kedokteran(atau Medical Education istilah kerennya) Filipina berbeda dengan kita. Tidak seperti kita yang langsung mengambil FK setelah lulus SMA, mereka harus terlebih dulu mengambil gelar sarjana Pra-FK atau Pre-Medical Degree. Dalam hal ini, mereka yang berminat untuk masuk kedokteran tidak terbatas pada S1 Biologi atau S1 Keperawatan, tetapi bisa dari bidang-bidang lain seperti Psikiatri, Ekonomi dan bahkan Pertanian. Namun mereka juga harus mengambil mata pelajaran awal selagi menjalani pendidikan S1 seperti Trigonometri,  Biochemistry, Basic Biologi. Setelah wisuda, mereka harus mengikuti National Medical Admission Test (NMAT) yang diselenggarakan serentak di seluruh Filipina. Setiap FK disana memiliki rata-rata nilai NMAT yang menentukan peminat tersebut diterima atau tidak.

Setelah 3 tahun menjalani FK plus 1 tahun magang (Post-Graduate Internship), mereka harus mengambil Physician Licensure Examination (PLS) untuk mendapatkan izin praktek.  Di Indonesia, kita lebih mengenalnya dengan nama Uji Kompetensi Dokter Indonesia(UKDI). Physician Licensure Examination merupakan prasyarat untuk melanjutkan pendidikan dokter spesialis di sana dan itu tidak main-main. Bila gagal, maka mereka harus menunggu setahun penuh untuk mengulang ujian tersebut. Hanya mereka yang gigih dan rajin, mampu untuk melewati ujian tersebut.

Pendidikan dokter spesialis di Filipina lebih berbasis pada rumah sakit (Hospital-based) daripada universitas FK (University-based). Selain itu, tidak hanya rumah sakit negeri (Public hospital) yang memiliki wewenang untuk mendidik dokter spesialis, rumah sakit swasta (Private hospital) juga diberi wewenang yang sama. Di Indonesia, kita memiliki 74 fakultas kedokteran yang memberikan pendidikan dokter spesialis, namun di Manila, ada lebih dari 70 fakultas kedokteran. Namun harus diingat bahwa tidak semua FK di sana menawarkan pendidikan yang bagus. Jadi saya ingatkan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya  sebelum melamar ke FK pendidikan idaman anda.

Ada teman sejawat bertanya apa kelebihan mengambil pendidikan spesialis di Filipina dibandingkan dengan di Indonesia? Sebelumnya, saya katakan itu tidak berbeda jauh dibandingkan jika kita mengambil pendidikan dokter spesialis di Amerika, Australia atau Eropa. Semuanya memiliki kelebihan masing-masing. Namun ini yang saya dapat katakan bagi mereka yang berminat melanjutkan pendidikan ke Filipina:

Pertama, akses ke buku-buku maupun sumber informasi. Kendala yang dihadapi di Indonesia adalah tersedianya buku-buku pendidikan kedokteran. Sebagai pelayan kesehatan, kita memerlukan informasi yang terbaru dalam hal-hal kesehatan. Sebagai contoh, Anda pasti mengenal buku cetak Harrison’s Principle of Internal Medicine bukan? Selama 4 tahun saya di sana, buku tersebut sudah dua kali cetak dan kini edisi terbaru adalah 19th Edition. Perlu diketahui, saya memiliki buku Harrison’s 16th Edition(buku pertama setelah saya tiba), lalu 18th Editiion(pada saat tahun pertama) dan 19th Edition(baru-baru ini). Harga-harga buku akan saya bahas pada tulisan selanjut.

Maafkan bila ada yang tersinggung, tetapi di Indonesia saya hanya menemui Harrison’s 17th Edition yang sudah diterjemahkan. Tidah hanya kendala bahasa, harga buku pendidikan kedokteran yang diimpor membuat akses tersebut terbatas. Hanya mereka yang berkocek tebal, yang dapat membelinya.

Di Manila, setiap FK menyediakan buku-buku tersebut di perpustakaan mereka. Kadang-kadang kita dapat menyewanya untuk dipelajari. Jika tidak, terpaksa Anda harus menghabiskan waktu untuk belajar di sana. Kebanyakan ujian maupun diskusi didasarkan atas buku-buku tersebut.

Selain itu, mereka mungkin menyediakan akses internet untuk mempermudah pencarian topik-topik kesehatan. Kita dapat mencari jurnal-jurnal maupun hasil research lewat akses. Kita juga dapat berkomunikasi dengan para konsulen kita untuk mengecek hasil presentasi kita.

Kedua, Evidence-Based Medicine (EBM). Saya percaya para dokter di tanah air kita juga mengaplikasikan EBM juga seperti halnya di Amerika, Australia maupun Eropa. Para konsulen di Manila kebanyakan adalah para spesialis yang diakui di bidangnya.  Semua penanganan yang mereka lakukan selalu ada dasarnya dan telah dipelajari melalui studi-studi banding. Bagi mereka, di atas Standard Operating Procedure/Protap ada pedoman penuntun atau Guidelines yang sudah dipublikasikan secara internasional. Contohnya, JNC VII dan VIII, diikuti dengan ESC 2013 bagi penanganan darah tinggi dari American Heart Association(AHA) dan European Society of Cardiology(ESC). Maka bersiaplah, hai calon dokter spesialis! Anda harus mengetahui hal-hal ini di luar kepala. Jika tidak,  Anda pasti akan dibombardir berbagai pertanyaan oleh para konsulen Anda.

Ketiga,kasus-kasus yang bervariasi. Alasan pendidikan dokter spesialis ada adalah untuk mendapatkan paparan kasus-kasus yang tidak biasanya.  Sewaktu saya menjalani tahun pertama, saya harus mendiskusikan kasus Meningitis Kriptokokal (Cryptococcal Meningitis) pada ODHA di hadapan para konsulen. Tidak hanya itu, saya juga menemui kasus-kasus unik seperti Penyakit Jantung Tirotoksikosis (Thyrotoxic Heart Disease) dan ulkus Dieulafoy pada penderita Angioplasia. Sebanyak-banyaknya kasus di rumah sakit swasta, lebih banyak lagi kasus di rumah sakit negeri.

Keempat, hubungan antara konsulen dan residen. Saya takkan membahas hal ini dengan detail. Tergantung dari rumah sakit yang Anda tuju, hubungan konsulen-residen di Filipina berdasarkan pada apa yang Anda pelajari dan ketahui. Bila Anda rajin belajar, buatlah konsulen itu segan pada Anda. Tidak hanya mengajari Anda, mungkin mereka akan mempercayakan pasien pada Anda. Jawablah setiap pertanyaan mereka walaupun salah-salah.  Seperti layaknya manusia, mereka juga punya kepribadian dan sifat yang berbeda-beda. Bersikap hormat dan sabarlah pada mereka. Teladani apa yang baik dari mereka, bukan yang jelek. Yang penting di sini adalah proses, bukan durasi.

Kelima, proses penerimaan yang tidak bertele-tele. Keluhan rekan sejawat akan pendidikan dokter spesialis Indonesia adalah saratnya ‘muatan’ dan ‘syarat’ yang tak jelas. Terlebih lagi, di Indonesia,  keharusan dokter untuk menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT) masih berlaku. Saya bukan bermaksud mengecilkan rekan sejawat yang telah mengikuti PTT; justru saya salut dengan mereka yang telah melayani masyarakat di daerah terpencil dengan fasilitas seadanya. Itu juga bekal tak ternilai yang dapat dipergunakan dalam pendidikan spesialis kita.

Kembali ke proses penerimaan lamaran. Dengan persyaratan yang jelas, para pelamar diterima bukan berdasarkan muatan/syarat, tetapi berdasarkan kemampuan dan penilaian dari Training Board  yang bersangkutan. Bila Anda dikirim oleh institusi, itu merupakan nilai tambah yang bagus. Tetapi tidak menutup kesempatan bagi mereka yang  mandiri.

Keenam, adanya peralatan-peralatan diagnostik  dan perawatan yang canggih. Walau tidak secanggih Amerika dan Eropa, Filipina juga menawarkan penanganan yang tak kalah canggihnya dengan mereka. Percutaneous Catheter Invasive/kateter pembuluh darah jantung adalah sarapan sehari-hari para dokter jantung intervensi di Philippines Heart Center, Cardinal Santos Medical Center, St.Luke Medical Center dan Philippine General Hospital. Begitu juga operasi bypass jantung. Mereka juga memiliki MRI, MRA(Magnetic Resonance Angiography), PET Scan dan Bone Scan. Yang lebih penting adalah para konsulen mengetahui kasus-kasus mana yang memerlukan alat-alat tersebut, dan mana yang tidak.

Tidak hanya kelebihan dari melanjutkan pendidikan dokter spesialis di Filipina, saya juga mengakui adanya kekurangan-kekurangan. Saya akan membahas apa saja yang perlu disiapkan dan persyaratan untuk melamar pendidikan dokter spesialis di Filipina. Sampai di sini dulu pembahasan saya. Bila ada kekurangan pada artikel ini, saya akan perbaiki.Terima kasih banyak!

  1. #1 by Peter on November 20, 2015 - 4:01 pm

    Permisi dok, sy berniat melanjutkan sp peny dalam ke filipina. Klo boleh tau dktr menjalani residen interna di rs mana? Apakah wajib bs bahasa tagalog dulu br diterima? Secara mgkn ane cm bs bhs inggris disana nantinya. Boleh mnt contact agan atau line buat chatting untuk nanya2 lebih lanjut. Terima kasih.

    • #2 by adapz on March 29, 2016 - 12:06 pm

      Apa kabar, rekan sejawat!
      Maaf, baru bisa balas sekarang
      Saya menjalani residensi interna di Adventist Medical Center Manila, di Pasay City, Manila
      Sebenarnya wajib bahasa Tagalog itu peraturan tak tertulis, bagaimana bisa mengambil anamnesa pasien jika
      bahasanya saja tidak mengerti.
      Boleh hubungi saya di WA atau Line: +639157831829

      Terima kasih

  2. #3 by Thianren on March 25, 2016 - 5:15 pm

    Setuju banget! Buku2 di Manila bisa dibilang lengkap dan variatif! Ada juga yang Philippine Edition yang harganya jauh lebih miring. Di sana sumber kepustakaan banyak sekali dan up to date! Di Indonesia terlalu banyak buku terjemahan dan sudah out of date. Paling males baca buku terjemahan apalagi kalau karangan lokal yang ujung-ujungnya jiplakan dari textbook luar.

    Sudah ambil ujian Diplomate kan? Tahun ini saya Fellow Induction, semoga bisa bertemu di Convention!

    • #4 by adapz on March 29, 2016 - 11:53 am

      Halo, rekan sejawat!
      Maaf baru balas sekarang
      Selamat telah lulus dari Fellow Board dan terima kasih atas komen Anda.
      Sayang, saya belum menyelesaikan research jadi tak sempat mengambil ujian PCP Diplomate
      Nanti kita ketemu di PCP Convention

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: