Junior Intern Versus Ko-Ass: Pandangan semasa Adaptasi Part I

Junior Intern, Clerk, Ko-asisten, Dokter Muda…siapa mereka?  Bagi rekan-rekan sejawat, tentu mengingat masa-masa dimana dipanggil dengan nama-nama di atas.  Pada tahun ke-4, semua mahasiswa kedokteran diwajibkan untuk mengikuti tahap ini sebagai pemahaman akan pekerjaan mereka dalam masyarakat.  Praktisnya adalah aplikasi dari kuliah selama 3 tahun.

Junior intern atau singkatan J.I. adalah istilah di luar negeri (terutama di Filipina). Nama resminya adalah Clerk.  Periode yang dijalani mereka terkadang disebut Clerkship. Di Indonesia, J.I. dikenal dengan nama Ko-asisten (maksudnya pembantu dokter) atau Dokter Muda resminya.

Para dokter muda atau ko-as tidak dibiarkan tanpa pengawasan. Selama setahun, mereka bekerja dengan pengawasan oleh dokter konsulen dan residen. Dalam hierarki rumah sakit, posisi J.I. atau ko-as adalah nomor tiga setelah konsulen dan residen. Di lain pihak, posisi mereka dengan perawat nyaris sama (tergantung keadaan). Posisi yang tidak menguntungkan ini bisa menjadi sumber konflik yang berkepanjangan. Walau ada konsulen/residen yang tidak ramah kepada ko-as/J.I.-nya, ada beberapa yang bersikap sebaliknya. Namun intinya: jangan pernah ribut dengan konsulen maupun residen. Toh, kita hanya mencari ilmu, bukan mencari ribut.  Untuk tahu lebih banyak, saya sarankan untuk membaca buku Clincian’s Pocket Reference, Edisi ke-11.

Pada dasarnya, semua bagian yang dilewati para ko-as/ J.I. sama saja (baik di Filipina maupun di Indonesia), tetapi dengan beberapa perbedaan kecil. Saya akan menjabarkan perbedaan dan persamaan bagian2 tersebut di dalam blog ini. Kita membahas 3 bagian besar dulu!

Catatan: saya mengambil perbandingan ini dari masa clerkship di MCU dan persamaan di RSHS Bandung. Kedua universitas tersebut menggunakan kurikulum PBL (Problem-based Learning) Mungkin teman-teman yang berasal dari Fakultas Kedokteran atau  Rumah Sakit yang berbeda, akan merasa sedikit lain. Jadi bila ada kekurangan tolong dimaafkan.

  1. 1.     Ilmu Penyakit Dalam/Internal Medicine ‘Luar-dalam’

Salah satu cabang besar dari kedokteran dan paling laris(manis).  Siapa yang tidak senang dipanggil ‘dokter internist’?

Sewaktu saya menjalani stase bagian ini di MCU, kita mendapat giliran jaga 3 hari sekali (maksudnya pada hari ke-2, kita berjaga). Komposisi JI yang stase terdiri dari 1-3 JI yang berjaga di ER dan bangsal, setelah jaga malam langsung pergi ke poli/ OPD. Di bangsal, 1 JI bisa memegang 3-4 pasien dan celakanya, kita harus mengikuti Morning Round dimana kita menjelaskan tentang pasien kita di depan teman-teman dan residen. Ini istilahnya ‘Operan pagi’. Ada kalanya kita tidak bisa menjelaskan secara teliti (akibat kurangnya tidur), maka residen jaga akan mendapat giliran untuk ‘diinterogasi’.

Tugas intern/clerk di bangsal adalah memonitor pasien, dan melaporkan setiap kelainan kepada residen jaga. Intern boleh membaca status, tetapi harus menulis hasil monitornya di lembar sendiri, yang nantinya akan diperiksa oleh konsulen/residen. (Ini disebut Chart Review) Seorang intern juga harus mencatat pasien2 yang dipegangnya dalam buku log.

Di bangsal, Intern tidak hanya mengawasi pasien di bangsal saja, tetapi juga pasien di ICU dan ICCU. Hanya saja di kedua tempat itu, kita tidak monitor ketat karena perawat ICU dan residen yang bertanggung jawab .

Kita stase di bagian ini selama 2 ½ bulan.

Kemudian diikuti dengan Bedside round dimana konsulen akan memilih pasien yang  sudah kita anamnesa dan periksa sebelumnya dan menanyai residen/J.I. tentang hal-hal yang berkaitan dengan penyakit pasien dan penanganannya.

Selain di dalam RS induk, J.I. juga ada stase luar di San Lazaro Hospital selama 1 1/2 minggu. San Lazaro Hospital adalah RS khusus penyakit tropik dan infeksi. Kegiatan di sana tidak jauh berbeda dengan Rumah Sakit induk (MCU) dimana intern ikut Morning  and Bedside Round, serta memonitor pasien. Yang menarik dari San Lazaro Hospital (SLH) adalah setiap bangsal dibagi menurut penyakit infeksi seperti bangsal Enteric Disease (Diare, Tipus dsb), Pneumonia (anak dan dewasa), Infeksi Saraf (Ensefalitis, Tetanus, Polio)

Sebagai ujian akhir, kita memiliki Long Case dimana dokter kepala departemen akan memilih lima pasien actual yang kita pegang, kemudian akan dipresentasikan dan dibahas empat mata.

Ketika menjalani program adaptasi di Indonesia, stase di Ilmu Penyakit Dalam tidak jauh berbeda. Hanya saja giliran jaga kita setiap 3 atau 4 hari sekali. Komposisi ko-as pun tidak jauh beda dengan J.I. Tugas juga tidak jauh berbeda, hanya saja kita boleh mengecek status milik pasien. Di Indonesia tidak ada Chart Review dan ICU/ICCU off limit buat ko-as (maksudnya ko-as hanya boleh datang, tetapi tidak untuk monitoring…)

Berbeda dengan di Filipina dimana kita memeriksa semua pasien secara umum, poli Penyakit Dalam di RSHS terbagi menurut spesialisasinya, yaitu Kardiovaskuler, Pulmoner, Rheumatology, Endokrinologi, Hemato-onkologi dan Gastroenterologi.

Untuk long case, konsulen memilih satu pasien di bangsal dimana kita harus membuat anamnesa, memeriksa PE dan membuat report yang akan kita presentasikan di depan teman-teman ko-as.  Lama stase di bagian ini sama seperti di Filipina, namun bagi peserta adaptasi hanya diberikan 6 minggu.

  1. 2.     Ilmu Penyakit Anak/Pediatrics ‘Bagi yang suka Anak-anak’

Siapa yang tidak suka anak-anak? Cabang ini cocok bagi mereka yang suka anak-anak.

Tentunya juga harus sabar.

Di MCU, stase di Pediatrik tidaklah jauh berbeda dengan di Internal Med. Tugas jaga setiap 3 hari sekali dan ada 3 J.I. yang bertukar jaga di ER, bangsal dan ruang perinatologi serta jaga poli setiap pagi. Jaga malam kebanyakan dihabiskan di dekat ruangan bersalin dimana kita harus menerima bayi yg baru lahir dan mengerjakan Ballard Score.  Bila ada bayi lahir via SC, kitalah yang harus menjemputnya dengan kereta, melakukan pemeriksaan tanda vital dan membawanya ke incubator untuk diawasi. Di sana juga ada NICU, tetapi jarang sekali intern masuk ke dalamnya.

Tugas rutin adalah monitoring tanda-tanda vital setiap anak/bayi (ini lebih sulit daripada orang dewasa, karena sekali anak/bayi terbangun mereka akan rewel sepanjang malam)

Setiap pagi kita akan mengadakan Morning Round dimana kita melaporkan pasien kita di depan teman-teman, konsulen dan residen. Kita juga mempunyai Bedside Case dan Case Report , serta Long Case dengan pasien actual bersama konsulen pediatric. Setiap Jum’at, kita mengikuti ujian tertulis. Selama stase, para intern tidak ada stase luar. Stase Pediatrik biasanya 1 ½ bulan.

Sementara di Indonesia,  dua sampai tiga ko-ass mendapat giliran jaga setiap 3-4 hari sekali dan tempatnya sama saja ( ER, bangsal, ruang perinatologi dan poli). Mirip dengan IPD, poli anak juga dibagi menjadi Poli Tumbuh Kembang, Thalassemia, Pulmoner/Paru, Neuropediatrik dan Penyakit Infeksi. Sama dengan di Filipina, para ko-ass jarang mengunjungi NICU, bila tidak dengan konsulen atau residen.

Long Case kita di sana tidak jauh beda dengan di Filipina: dengan pasien actual dan dipresentasikan di depan konsulen dan bersiap2 ‘diinterogasi’. Bila tidak memuaskan, kemungkinan kita harus mengulang lagi dengan pasien dan konsulen yang berbeda.

Lama stase di sana adalah 2 bulan.

Berbeda dengan di Filipina, para ko-ass menjalani stase luar di RSU Cibabat. Stase kita kebanyakan di poli dengan bimbingan para konsulen dari RSU dan residen yang berotasi di sana. Tentunya kita memiliki ujian akhir berupa Long Case.

  1. 3.     Ilmu Bedah/Surgery ‘Mari kita buka…’

Ah, bedah…salah satu cabang favorit! Juga terkenal dengan perselisihan dengan IPD. Menurut salah satu residen saya di MCU, perbedaan bedah dengan IPD adalah bedah adalah jalan akhir, sebab kebanyakan jawaban bedah adalah…operasi. (IPD lebih banyak berkutat pada teori, itu harus saya akui)

Stase bedah di MCU  tetap sama seperti cabang lainnya, namun intinya adalah Patient Care and Preparation.  Para junior intern bertugas mendampingi para residen dan konsulen dalam setiap operasi, apalagi kalau itu pasien in-charge mereka. Mereka bertugas memantau tanda2 vital dalam operasi, sekaligus memperhatikan operasi. Lebih asyik lagi, adalah kita dapat melakukan visite preoperative bersama-sama Anestesi. Sebaiknya kita harus tahu banyak tentang pasien kita, kalau tidak mau kena marah residen/konsulen.

Seperti cabang lainnya, kita tetap mengikuti Morning Round, Bedside Case dan Long Case.

Oh, bila ada pasien luka bakar (burn patient), kitalah yang melakukan debridement dan membalurkan Silver sulfadiazine. Begitu juga dengan luka operasi dengan ditemani perawat.  Saya kira itu pantas, dengan imbalan menyaksikan skin grafting…

Di poli, kita memeriksa pasien baru ataupun pre-op. Kita juga diijinkan untuk melakukan suturing/hecting atau off hecting pada pasien bedah minor. Bila konsulen berkenan, kita akan diajak untuk assist mereka di bedah minor. Stase di bedah MCU adalah selama 2 bulan.

Kita juga mengikuti stase luar, yaitu di Quezon City Memorial Hospital, sebuah rumah sakit pemerintah. Jangan berharap residen di sana baik, sebab ada juga yang ‘sadis’. Berbeda dengan di RS Induk, pasien disana harus membeli persediaan dan obat2an yang diperlukan untuk operasi dari apotik terdekat. Para intern juga bertugas mentransport pasien ke ruang operasi (termasuk mendorong kursi roda atau brankar, bahkan mengangkatnya di tandu). Kita stase di sana selama 2 minggu.

Monitoring di sana jauh lebih sibuk, karena kita menjalankan tugas yang biasanya dijalankan oleh perawat…seperti menghitung I/O urine, membersihkan luka, mengambil darah melalui syringe/pipet (persis seperti lab). Pokoke sibuk!

Di QCMH, kita juga bertemu dengan para Senior intern/magang yang berasal dari RS yang berbeda2…kita akan dipapar pada penerapan yang berbeda2 juga.

Kembali ke Indonesia, kita menemui banyak perbedaan. Pertama, jadwal jaga kita sangat ireguler (1x seminggu di berbagai bagian), kedua jumlah ko-ass sangat banyak (tergantung angkatan, bisa mencapai 19-20 orang) dan ketiga berotasi setiap 3 hari sekali di poli spesialisasi bedah. Tugas kurang lebih sama memonitor pasien bersama perawat, walau tidak terlalu detail. Di ER, kita menangani pasien juga, walau dengan keramaian di sana hanya pasien dengan luka ringan yang dapat kita hecting.

Di RSHS, poli bedah dibagi menjadi Bedah Plastik, Bedah Onkologi, Ortopedik, Urologi, Bedah Saraf, Bedah Toraks, Bedah Anak dan Bedah Vaskuler. Kita harus menjalani semuanya; dengan begitu banyak orang (pada masa adaptasi saya) selalu ada kemungkinan kita berada di dalam grup yang berbeda. Saya stase selama 6 mgg, sementara teman2 ko-ass 2 bulan.

Kesempatan assist di OK (ruang operasi) sangat terbatas, mungkin hanya dalam keadaan tertentu kita dapat mengikuti. Walau demikian, kita masih bisa menyaksikan para residen/konsulen ‘in action’ baik dalam operasi minor.

Di sana setiap ko-ass harus mengikuti Morning Conference yang diadakan setiap Senin, Kamis dan Jumat. Uniknya, Conference pada hari Senin berbahasa Indonesia, sementara hari Kamis berbahasa Inggris. Hari Jumat berupa Case Studies. Oh, sebaiknya kita harus bangun lebih awal kalau tidak mau kena damprat…

Long Case di sana tetap menggunakan pasien actual (dipilih oleh konsulen/residen kepala) dan dipresentasikan di depan konsulen. Nah, ini dia…kesuksesan atau kegagalan Anda melewati Long Case ditentukan oleh konsulen itu sendiri (tergantung dari mood mereka). Bila mood mereka jelek, Anda bisa saja jeblok dan harus mengulang lagi. Sekali lagi persiapan Anda juga menentukan.

Selama Adaptasi saya juga menjalani stase luar di RSU Ujung Berung dan Cibabat. Saya harus mengakui bahwa stase luar adalah refreshing. Konsulen di sana tidak terlalu ‘sadis’ dan kita dapat belajar banyak dari mereka. Selain itu tugas di sana juga tidak terlalu berat. Sayangnya waktu 1 ½ minggu terlalu singkat utk belajar apapun.

Demikianlah bahasan saya mengenai perbedaan ko-ass( Indonesia) dan Junior Intern (Filipina) dalam stase 3 bagian besar. Kali lain kita akan membahas mengenai bagian Kebidanan dan Kandungan (Ob-Gyne) serta Neurologi & Psychiatry(Neuro-psychiatry). Sampai berjumpa kembali!

  1. #1 by Meklin on September 13, 2012 - 8:18 am

    Halo, saya sekolah kedokteran MBBS program di cina. Saya tahun terakhir ini harus magang. Saya bisa magang di Indonesia gak yah? kalo bisa dimana yah bagusnya?
    thank you..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: